MY LOVE

MY LOVE

Jumat, 22 April 2011

kesabaran seorang istri


Sebenarnya apa tugas utama seorang Istri?
Mengurus rumah, mengurus semua kebutuhan suami, mengurus anak2. Apa hanya itukah Tugas Seorang Istri?
Lalu, bagaimana dengan Tugas Seorang Suami? Hanya mencari nafkah dan jadi Kepala Keluarga semata?
Bagaimanakah kalau Laras sebagai seorg istri yang jg bekerja mencari nafkah? Atau mungkin dibalik saja Laras yang menjadi kepala keluarga mencari nafkah dan mencukupi semua kebutuhan rumah tangga sedangkan Hanafi suaminya hanyalah pengangguran? Apa yg suami lakukan?
Hanafi mencoba melamar2 pekerjaan tapi, tak kunjung jua mendapatkan pekerjaan yg pasti dan tetap sedangkan Laras yang sudah lebih dahulu memiliki pekerjaan yang tetap harus membanting tulang mencari nafkah seharian. Capek, Lelah, yg istri rasakan dengan seabrek masalah yg dihadapi di kantornya. Belum lagi setibanya dia di rumah dia harus tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci baju, mengepel, menyetrika baju dan msh byk lagi hingga tengah malam dia baru bisa istirahat.
Pdhal yg selalu ada dibenak sang istri bgt dia sampai di rumah dia bisa istirahat menghilangkan lelah seharian bekerja sembari nonton tv dan tidur cepat hingga keesokkan harinya bisa fresh. Tapi, apa yg didapatkan sang istri? Rasa lelah yang berkepanjangan.


Lalu, kemana dan ngapain aja sang suami seharian?
Memang Hanafi sering membantu pekerjaan Laras di rumah. Dia bereskan semua pekerjaan rumah tangga sehingga sang istri pulang bisa istirahat total. Dibuatkannya air panas untuk mandi Laras, dibuatkannya teh hangat dan dia siapkanmakan malam utk istrinya tercinta. Terkadang pijitan2an sayang dia berikan utk istri tercintanya hingga istrinya tertidur dengan lelap.

Oh…sangat pengertiannya suamiku mgk hanya ini yg ada dibenak Laras.
Laras adalah seorang wanita yang sangat sabar dalm menghadapi suaminya yg pengangguran, dia sama sekali mementingkan kebutuhannya meski hanya sekedar untuk memanjakan diri ke salon atau untuk beli baju baru. Tetapi, yang dipikirkan selalu suaminya asalkan suaminya bisa makan dan punya pakaian yg bagus dia pun ikut bahagia. Kebahagiaan suaminyalah yg paling ptg untuk Laras. Meski dia sangat jarang sekali suaminya tiap bulan mengajaknya beli bajukah, atau makan di restoran itu bukanlah hal yg ptg buat Laras karena suaminya orang yg sangat senang dengan masakan istrinya.

Tetapi, kehidupan ekonomi tak bisa ditutupi terkadang Hanafi emosi yg gak jelas malah kadang spt anak kecil terlebih lagi apabila Hanafi sedang punya uang dan Laras tak punya uang sepeser pun hanya tinggal untuk transportasi saja. Istrinya rela bangun pagi2 untuk memasak makan sang suami dan bekalnya ke kantor lumayanlah ngirit uang makan. Laras tetap sabar dan ikhlas menjalani hari2nya, meski sangat jauh berbeda dari teman2nya di kantor yang masih bisa jajan atau makan enak.


Di suatu pagi menjelang Laras berangkat kerja Tiba2 si suami berkata “kamu kok berangkatnya selalu telat?” Laras menjawab “aku punya waktu sampai jam 8.15 mas dan gak ada masalah krn bukan hanya aku saja yang telat.” Tiba2 si suaminya berkata “kamu jangan memandang org lain trs ukur diri kamu sendiri gak usah ikut2an kamu tak tinggal lho (berangkat duluan)” dengan nada kesal istrinya menjawab “tinggal aja sana”

Suaminya langsung pergi tanpa pamit dan Laras pergi kerja dengan rasa kesedihan dengan rasa yang aneh thd sikap suaminya kalau dia bernagkat pagi2 suaminya tidak rela tapi kalau berangkatnya telat dia marah2 serba salah jadinya. Memang sih waktu itu suaminya buru2 karena ada panggilan interview di sebuah perusahaan.
Selama di perjalanan Laras berfikir, ini bukan pertama kalinya suaminya sensitif ini. Selama bertahun2 dia hidup bersama suaminya selalu seperti ini terlebih jikalau dia memiliki uang sedangkan istrinya sudah tak memegang uang lagi semuanya habis untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Tapi, jika si istri masih punya uang suaminya sangat manis dan tak pernah marah2. Jikalau Laras ngomong baik2 ttg sikap suaminya ini Hanafi tetep memiliki 1000 pembelaan diri, dia gak mau diukur dengan materi krn buatnya materi itu gak penting tp SABAR dan SANTUN yg paling penting. Selalu itu yg Hanafi katakan pd Laras tp, Laras tau betul kebiasaan suaminya.
“Ya Allah kurang apa aku ini di mata suamiku? Sekian lama aku tutupi statusnya yg pengangguran dari keluarga besarku. Tapi kenapa suamiku tak pernah mau mengerti aku? Salah aku apa Ya Allah? Apakah karena aku belum bisa memberikannya seorg anak sehingga dia bisa seperti ini padaku” Laras hanyut dalam do’a2nya dan hanya menangis yg bisa dia lakukan.

Bukan hanya itu juga tak jarang kalau Hanafi di pagi hari sudah marah2 dan ngambek, bgt tiba di rumah dan ketemu istrinya dia mau bercengkrama dg istrinya. Tapi, dia hanya diam 1000 bahasa hingga Laras mau minta maaf terlebih dahulu. Istrinya sering mengalah dalam hal ini karena dia pikir di rumah ini kami hanya berdua kalo gak ada yg diajak ngobrol harus ngobrol sama sapa lagi? Tapi, terkadang jg Laras ttp diam semata2 dia jg mau suaminya menyadari kesalahannya.


Hmmm…Sebenarnya siapakah yg harus disalahkan dalam masalah ini? Si istri yg terlalu perasa atau suaminya yg pengangguran sehingga memaksanya harus mjd seorang yg sensitif? Tapi Laras sangat menerima dengan kondisi suaminya saat ini dan dia tidak menuntut apa2 dari suaminya.

Terkadang sang istri merasa iri dg teman2nya yg serba kecukupan baik dari suaminya punya pekerjaan yg mapan dan gaji tinggi, materi kecukupan, memiliki rumah yg mewah, punya anak…”begitu bahagianya mereka. Sedangkan aku punya motor aja masih kredit dan itu belum lunas, msh ngontrak di rumah yg kecil krn gajiku tak cukup untuk ngontrak rumah yg lbh besar lg, belum lagi suamiku yg pengangguran.” Laras meratapi kondisi rumah tangganya yg sulit “Astaghfirullahaladzim… tak seharusnya aku begini Ampuni aku Ya Allah yang mgk kurang bersyukur atas nikmat dan rahmat yang telah Engkau berikan pada kami” Laraspun terhentak dari ratapannya.

Terkadang Laras ingin berbagi cerita tapi pada siapa dia harus cerita? Temankah? Apakah mereka bisa membantu mengurangi derita Laras? Tentu tidak paling mereka hanya jadi pendengar yg baik dan merasa kasihan padaku, sedangkan aku tidak butuk dikasihani apalagi ini aib rumah tangga yg bukan utk konsumsi publik.
Keluargaku? Jangan, ini akan jadi boomerang utkku habis dicaci dan dimaki oleh keluargaku karena dulu yang ngotot untuk menikah dengan Mas Hanafi itu aku. Gimanapun aku harus menjaga nama baik suamiku. Laras terus berpikir…
Apa mertua aja ya? Secara mertua sudah tau kondisi suamiku, tapi, janganlah mereka sudah pada tua dan gak sepantasnya aku membebani pikiran mereka lagi. Lalu, pada siapa lagi aku harus berbagi untuk mengurangi kesedihanku ini? Laras terus berpikir…

Ya…benar hanya pada Allah aku bisa mencurahkan semuanya. Hanya Pada Dia aku bisa menceritakan semuanya dan hanya Allah yg bisa menolong kami. Meski Laras harus selalu menangis di setiap Sholatnya setidaknya sudah mengurangi beban Laras.
Akhirnya Laras memutuskan hanya menyimpan rapat2 kondisi rumah tangganya dari semua org biarlah dia yg mengalami dan merasakannya. “Syukur Alhamdulillah suamiku jg sgt menyayangi aku, dia tidak menuntut apa2, emang dia kadang sensitif sekali tapi itulah sifatnya nggak apa2 aku terima ini sudah resiko aku mau mengarungi bahtera hidup ini bersamanya hingga ajal menjemput kami.” Laras tersadar dari semua…
setidaknya dia masih bisa bersyukur kalau suami seperti Mas Hanafi tidak pernah menyalahkannya hingga 2,5 tahun mereka belum memiliki keturunan dari rahim Laras. Itu yg membuat Laras semakin semangat menjalani hidup ini, meski banyak kekurangan yg ada didirinya dan suaminya. Pasti semua ini ada hikmah yg baik untuknya dan suaminya.
Laras hanya bisa bersabar, pasrah dan ikhlas menjalani hidupnya bersama suaminya dan terus berharap suatu saat Allah bisa memberikannya keturunan dari rahimnya sendiri dan suaminya jg bisa menjadi org yg sukses, Insyaallah.. apapun keadaan suaminya Laras ikhlas menerimanya karena tujuannya adalah ingin mengabdi dangan setia pada Allah Sang Maha Pencipta dan suaminya.

Ya Allah Kuatkan kami berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami dan menjalani kehidupan ini. jangan Engkau berikan kami berdua ujian dan cobaan yang melebihi batas kemampuan kami Ya Allah…Amien

Tidak ada komentar:

Posting Komentar